Wednesday, 29 March 2017

Memahami Apa Itu KHURAFAT

KHURAFAT

Khurafat yaitu menghubungkan suatu peristiwa yang terjadi dengan suatu perkara yang menutup akal.
Kata khurafat berasal dari bahasa arab: al-khurafat yang berarti dongeng, legenda, kisah, cerita bohong, asumsi, dugaan, kepercayaan dan keyakinan yang tidak masuk akal, atau akidah yang tidak benar. Mengingat dongeng, cerita, kisah dan hal-hal yang tidak masuk akal di atas umumnya menarik dan mempesona, maka khurafat juga disebut “al-hadis al-mustamlah min al-kidb”, cerita bohong yang menarik dan mempesona.
Sedangkan secara istilah, khurafat adalah suatu kepercayaan, keyakinan, pandangan dan ajaran yang sesungguhnya tidak memiliki dasar dari agama tetapi diyakini bahwa hal tersebut berasal dan memiliki dasar dari agama. Dengan demikian, bagi umat Islam, ajaran atau pandangan, kepercayaan dan keyakinan apa saja yang dipastikan ketidakbenaranya atau yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran al-Qur’an dan Hadis nabi, dimasukan dalam kategori khurafat.
Khurâfat secara bahasa berarti takhayul, dongeng atau legenda  Sedangkan khurâfy adalah hal yang berkenaan dengan takhayul atau dongeng. Dalam kamus munawir khurafat diartikan dengan: hal yang berkenaan dengan kepercayaan yang tidak masuk akal (batil).
Pengertian khurâfat dalam Islam Khurâfat ialah semua cerita sama ada rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantang-larang, adat istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam .
Berdasarkan pengertian di atas, khurâfat mencakup cerita dan perbuatan yang direka-reka dan bersifat dusta. Begitu juga dengan pemikiran yang direka-reka merupakan salah satu bentuk khurafat.
Berdasarkan pengertian di atas, khurâfat mencakup cerita dan perbuatan yang direka-reka dan bersifat dusta, begitu juga dengan pemikiran yang direka-reka merupakan salah satu bentuk khurafat. contoh khurafat:
  • Menanam sebatang pohon pisang di halaman atau di samping rumah yang baru selesai dibangun dianggap dapat membawa sial pada penghuni rumah itu.
  • Jika tanaman hias tertentu yang ditanam dalam tempat bunga di rumah berdaun lebat, dianggap dapat menurunkan banyak rezeki.
  • Jika sebatang pohon beringin yang ditanam di halaman istana tumbang, hal ini pertanda akan terjadi penggulingan pimpinan negara.
  • Jika bunga teratai berkemban, hal ini pertanda bahwa dewa-dewa turun memberkatinya. Orang India mempersembahkan bunga teratai putih untuk Dewa Syiwa, bunga teratai merah untuk Dewa Brahma, dan bunga teratai biru untuk Wishnu.
  • Orang-orang Budha beranggapan bahwa jika bunga teratai tengah berkembang berarti roh-roh Budha tengah bersukaria.
  • Orang-orang China beranggapan bahwa dengan membuat bubur kacang merah pada sembahyang Tang Ceh, roh-roh jahatpun akan pergi terusir.
  • Cabai merah disajikan ketika terjadi hujan berhari-hari. Mengapa? Karena mereka menganggap dengan itu hujan akan cepat berhenti.
  • Jika terjadi musim penyakit, ditaruhlah bawang merah, lempuyang, dan sejenis rumput agar roh-roh pembawa penyakit tidak mendekati rumah.
  • Orang-orang China pada upacara Peh Cun menaruh rumput Ciang Pow (Acerus Calamus) di atas pintu, agar roh orang suci yang membunuh diri turun memberkati si empunya rumah.
  • Jika sebatang pohon Natal dipasang ditengah rumah, dianggap roh Yesus akan turun memberi pengampunan.
  • Jika anak-anak kecil terserang penyakit perut digantungkanlah sepotong aur kuning pada leher anak itu karena menganggap aur kuning dapat menolak penyakit.
  • Mengambil daun pisang beserta pelepahnya pada petang hari dianggap dapat menyebabkan kematian dalam perjalanan.
  • Pohon anjuang yang di tanam di sawah dan ladang dianggap dapat mengusir hantu pembawa hama tanaman. Pohon anjuang yang ditanam di kuburan dianggap dapat menghindarkan gangguan hantu kubur pada roh-roh mati dalam kuburan.
  • Pohon leci yang tengah berbuah dianggap sebagai pertanda roh-roh nenek moyang tengah berpesta pora.
  • Merangkai bunga melati pada malam hari dianggap dapat menghadirkan roh-roh gadis remaja.
  • Burung hantu yang bersuara pada malam hari dianggap  sebagai pertanda akan ada perempuan melahirkan.
  • Kupu-kupu yang masuk ke rumah dianggap sebagai pertanda akan datang seorang tamu.
  • Burung hamah yang bersuara dianggap sebagai pertanda akan terjadi pembunuhan balas dendam
  • Mempercayai bahwa berjabat tangan dengan orang yang pernah berjabat tangan dengan orang yang secara berantai sampai kepada orang yang pernah berjabat tangan dengan Rasulullah akan masuk surga.
  • Mendapatkan barakah dengan mencucup tangan para ulama. Demikian itu dikerjakan dengan kepercayaan bahwa berkah Allah kepada ulama itu akan berlimpah kepadanya.
  • Mempercayai beberapa ulama tertentu itu keramat serta menjadi kekasih Allah sehingga terjaga dari berbuat dosa. Andakata pun berbuat dosa, maka sekedar sengaja diperbuatnya untuk menyembunyikan kesucianya tidak dengan niat maksiat.
  • Memakai ayat-ayat al-Qur’an untuk azimat menolak bala’, pengasihan dan sebagainya.
  • Mengambil wasilah (perantara) orang yang telah mati untuk mendo’a kepada Allah. Mereka berziarah ke kuburan para wali dan ulama besar serta memohon kepada Allah agar do’a (permohonan) orang yang berziarah kuburnya itu dikabulkan. Ada yang memohon dapat jodoh, anak, rizki, pangkat, keselamatan dunia akhirat dan sebagainya. Mereka percaya dengan syafa’at (pertolongan) arwah para wali dan ulama itu, permohonan atau doa mesti dikabulkan Allah karena wali dan ulama itu kekasih-nya.
TAKHAYUL
Kata tahayul berasal dari bahasa Arab, al-tahayul yang bermakna reka-rekaan, persangkaan, dan khayalan. Sementara secara istilah, tahayul adalah kepercayaan terhadap perkara ghaib, yang kepercayaan itu hanya didasarkan pada kecerdikan akal, bukan didasarkan pada sumber Islam, baik al-Qur’an maupun al-hadis. Secara bahasa, berasal dari kata khayal yang berarti: apa yang tergambar pada seseorang mengenai suatu hal baik dalam keadaan sadar atau sedang bermimpi. Dari istilah takhayul tersebut ada dua hal yang termasuk dalam kategori talhayul, yaitu:
  1. Kekuatan ingatan yang yang terbentuk berdasarkan gambar indrawi dengan segala jenisnya, (seperti: pandangan, pendengaran, pancaroba, penciuman) setelah hilangnya sesuatu yang dapat diindera tersebut dari panca indra kita.
  2. Kekuatan ingatan lainnya yang disandarkan pada gambar idrawi, kemudian satu dari unsurnya menjadi sebuah gambar yang baru. Gambar baru tersebut bisa jadi satu hal yang benar-benar terjadi, atau hal yang diluar kebiasaan (kemustahilan). Seperti kisah seribu satu malam, Nyai Roro Kidul dan cerita-cerita khurafat lainnya.
Takhayul diartikan juga: percaya kepada sesuatu yang tidak benar (mustahil). Jadi takhayul merupakan bagian dari khurâfat.
Bila ditengok ke masa lampau, di berbagai negara, khusus timur tengah, kepercayaan model tahayul ini pernah berkembang pesat. Pada zaman Persi misalnya, sudah ada agama zoroaster. Menurut agama ini, ada Tuhan baik dan Tuhan buruk (jahat). Api dilambangkan sebagai Tuhan yang baik. Sedang angin topan dilambangkan sebagai Tuhan yang jahat. Kepercayaan ini berkembang dengan keharusan untuk menghormatinya, yang kemudian diwujudkan dengan sajian atau dengan penyembahan melalui cara tertentu terhadap sesuatu yang menjadi pujaanya yang dirasa mempunyai kekuatan tertentu.
Di Indonesia, tahayul berkembang dan menyebar dengan mudah, tidak bisa dilepaskan dari pengaruh agama dan kepercayaan lama. Adanya beberapa bencana alam menimbulkan korban menjadikan manusia berfikir untuk selalu baik dan menyantuni alam yang direalisasikan dalam suatu bentuk pemujaan dengan harapan bahwa sang alam tidak akan marah dan mengamuk lagi. Kepercayaan animisme dan dinamisme merupakan suatu aliran kepercayaan yang ditimbulkan dari keadaan di atas, seperti kepercayaan pada pohon besar, atau keris yang dianggap mempunyai kekuatan tertentu atau benda-benda lainya. Kepercayaan kepercayaan itu terus berlanjut dan berkembang bersama perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu yang menggunakan mistik (kebatinan) sebagai salah satu aliranya.
Takhayul menjadikan seorang menyembah kepada pohon, batu atau benda keramat lainnya, mereka beralasan menyembah batu, pohon, keris dan lain sebagainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah (Taqarrub) atau karena benda-benda tersebut memiliki ke-digdaya-an (baca: kesaktian) yang mampu menolak suatu bencana atau mampu mendatangkan sebuah kemaslahatan. ini salah satu dampak takhayul. Jika demikian maka Tauhid Rubûbiyyah dan Tauhid Ibadah seorang hamba akan keropos dan hancur.
Firman Allah;
ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى (الزمر:3)
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”… (QS. 39:3).
Takhayul juga merupakan senjata para ahli bid’ah dalam menguatkan argumennya dengan dalih bahwasanya ini adalah sesuai dengan syari’at yang disandarkan secara dusta kepada salafus shalih.
Di antara faktor-faktor yang mendorong terjadinya khurâfat ialah :

    a.       Mudah mempercayai benda-benda takhayul
    b.      Dangkalnya ilmu agama
    c.       Terpengaruh dengan kelebihan seseorang atau sesuatu benda.


Penolakan Islam terhadap mental khurâfat:

    a.       Kepercayaan dan amalan dalam Islam berdasarkan keyakinan bukan sangkaan (Dzan)
    b.      Tidak mengikut hawa nafsu dan emosi.
    c.       Menolak taklid buta
    d.      Melarang kepada seorang muslim untuk menuruti pemimpin yang zalim
    e.       Menolak dakwaan tanpa bukti




Sumber:
Parasit Akidah (Perkembangan Agama-Agama Kultur dan Pengaruhnya terhadap Islam di Indonesia), A.D. EL. MARZDEDEQ, PT. Syaamil Cipta Media, Bandung, Cetakan II, 2006.

Wednesday, 7 October 2015

Membincangkan Contoh Model Pengurusan Zaman RASULULLAH S.A.W.

Pengurusan Islam bersifat Rabbani kerana sistemnya adalah
berlandaskan kepada syariat yang telah ditetapkan oleh Allah s.w.t. Sistem pengurusan Islam bukanlah merupakan satu sistem yang direka dan dicipta oleh manusia tetapi merupakan satu sistem yang dicipta dan diturunkan sendiri oleh Allah s.w.t melalui perantaraan Rasulullah yang dilantik dan sudah tentulah Baginda s.a.w menjadi contoh yang terbaik kepada manusia dalam menguruskan urusan duniawi mahupun ukhrawi.

Rasulullah SAW sebagai pemimpin tertinggi yang dilantik oleh pemimpin yang Maha Tinggi maka wajar dijadikan uswah hasanah (contoh tauladan). Gaya kepimpinan, dorongan dan sifat baginda yang penyayang telah berjaya merangsang umat Islam untuk mencapai matlamat yang dirancang.

Pengurusan Rasulullah SAW telah melalui dua era yang berlainan iaitu :

i. Era Mekah
ii. Era Madinah.








ERA MEKAH


A. PENGURUSAN RASULULLAH SAW DARI SEGI PENYEBARAN DAKWAH

DAKWAH SECARA RAHSIA


Peringkat dakwah secara rahsia telah berjalan selama 3 tahun di Mekah. Dakwah telah disampaikan kepada orang-orang yang paling dekat hubungannya dengan Nabi Muhammad SAW, iaitu di kalangan ahli keluarga dan sahabat handai Baginda SAW.
Pada hari pertama dakwah, seramai 4 orang telah memeluk Islam. Mereka ialah :-

i. Khadijah binti Khuwaylid (isteri Baginda)
ii. Zayd bin Thabit bin Shurahbil al-Kalbi (hamba Baginda)
iii. Ali bin Abu Talib (sepupu Baginda, beliau masih kanak-kanak dan di bawah jagaan Baginda)
iv. Abu Bakar as-Siddiq (sahabat setia Baginda)


Seterusnya bilangan yang memeluk Islam semakin bertambah hingga bilangannya melebihi 40 orang. Walau bagaimanapun, berlaku perselisihan berkaitan bilangan mereka di kalangan para ulama. Golongan yang terawal memeluk Islam digelar sebagai al-Sabiqun al-Awwalun.
Antara perintah awal yang diturunkan ilah perintah mendirikan solat. Sepanjang tempoh rahsia ini, terbentuk persaudaraan akrab di kalangan orang yang memeluk Islam. Setelah hampir 3 tahun, orang-orang Quraisyh Mekah mula mengetahui dakwah sulit itu. Walaupun pada awalnya mereka tidak mempedulikan, namun mereka tetap menghantar orang untuk mengintip untuk mengetahui hasil dakwah Nabi Muhammad SAW



DAKWAH SECARA TERBUKA

1. Terus terang kepada Kaum Kerabat
Dakwah secara terbuka berlaku pada tahun ke -4 kenabian Baginda SAW. Ayat pertama yang turun berkenaan hal ini ilaha ayat 214 dari surah Asy-Shu’ara’ :

 وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat"

Usaha dakwah secara terbuka kepada kaum kerabat dapat dibahagikan kepada beberapa langkah :

1. Memanggil Bani Hashim. Turut serta ialah Bani al-Muttalib bin 'Abd Manaf. Sebelum Nabi SAW berucap, Abu Lahab terlebih dahulu memberikan ucapan dengan meremehkan Nabi SAW.

2. Baginda memanggil mereka kali kedua. Kali ini, Abu Talib telah mengatakan bahawa sokongan akan diberikan terhadap apa yang diucapkan oleh Nabi SAW.


Selesai Nabi Muhammad SAW berucap, Abu Lahab telah menjerit, “ Celaka engkau seluruh hari ini, adakah kerana ini engkau mengumpulkan kami?” Kemudian turunlah ayat dari surah Al-Masad bagi mencela perbuatan Abu Lahab tersebut.

2. Terus terang kepada orang ramai (umum)

Peringkat ini dijalankan oleh Rasulullah SAW setelah turunnya perintah Allah di dalam Surah al-Hjir ayat 94 :


"Maka Sampaikanlah Oleh Mu Secara Terang-terangan Segala Apa Yang Diperintahkan (kepadamu) Dan Berpaling Lah Dari Orang-orang Yang Musyrik"


Apabila turun ayat ini, Rasulullah terus menjemput kaum Quraisy serta pembesar-pembesar Quraisy menghadiri perjumpaan (rapat umum) di kaki bukit Safa dan menyeru mereka kepada agama Islam dan menyembah Allah SWT.

Dakwah pada peringkat ini menerima tentangan hebat dari kafir Quraisy. Penganut Islam khususnya golongan hamba dan orang miskin menerima pelbagai penyeksaan. Selepas peringkat ini, ajaran Islam terus tersebar luas dan pemgikut Islam semakin bertambah meliputi penduduk Mekah dan luar Mekah.

C. PERANCANGAN RASULULLAH SEBELUM BERHIJRAH

Sebelum berhijrah, beberapa perancangan dan penyusunan kerja telah dilakukan oleh Rasulullah dan Sayyidina Abu Bakar iaitu :

i. Mengupah Abdullah bin Arqat sebagai penunjuk jalan. Beliau bukan seorang yang beragama Islam.

ii. Memberi tanggungjawab kepada anak Sayyidina Abu Bakar iaitu Abdullah bin Abu Bakar supaya tinggal di Mekah pada siang hari untuk merisik hal ehwal puak Quraisy setelah Rasulullah dan Sayyidina Abu Bakar keluar dari rumah mereka. Pada sebelah malam, Abdullah pergi berjumpa mereka berdua untuk member perkhabaran tentang orang Quraish.


iii. Memberi tanggungjawab kepada pengembala ternakan, iaitu ‘Amir bin Quhairah supaya membawa ternakannya ke tempat persembunyian mereka bagi menghilangkan kesan tapak kaki mereka pada siang hari dan memberikan mereka minum susu pada waktu malam.


Contoh di atas membuktikan bahawa perancangan dan pengurusan adalah perkara yang amat penting dalam Islam.



ERA MADINAH



Madinah adalah merupakan sebuah kota yang mempunyai masyarakat majmuk, yang terdiri daripada etnik Arab dan etnik Yahudi. Orang Yahudi terdiri daripada tiga kabilah, iaitu Qainuqa’, al-Nadir dan Quraizah. Antara kabilah-kabilah ini tidak aman kerana adanya perbalahan dan rebutan antara mereka. Manakala di kalangan orang Arab pula terdiri daripada beberapa suku kaum, seperti Khazraj dan Aus. Keadaan mereka sentiasa bermusuhan, sama ada antara etnik dan kabilah atau suku kaum. Orang Arab Madinah samalah dengan orang Arab lain, menganuti kepercayaan keberhalaan, memuja dan menyembah patung-patung berhala.


Disamping itu pula orang-orang Musyrikin Quraisy di Makkah sentiasa membuat pelbagai usaha untuk menghancurkan agama Islam dan orang-orang Islam. Untuk mententeramkan keadaan gawat di Madinah, Rasullah SAW membuat perjanjian dengan seluruh Penduduk di Madinah dan menulis satu piagam negara Islam pertama yang disebut sebagai Sahifah al-Madinah.

Rasulullah s.a.w. dalam merangka piagam Madinah, beliau telah mengikut bimbingan wahyu dan berdasarkan norma-norma masyarakat Madinah ketika itu. Terdapat tiga langkah yang diambil oleh Rasulullah dalam membentuk piagam Madinah.

MEMBINA MASJID - Baginda telah membeli sebidang tanah untuk tapak masjid dengan harga sepuluh dinar yang dipungut daripada derma ikhlas para sahabat. Masjid ini dibina supaya ia menjadi sebuah parlimen untuk menyatupadukan ummah, sebuah universiti bagi mengajar soal-soal keagamaan dan keduniaan, sebuah mahkamah untuk kehakiman, sebuah rumah tumpangan bagi pengembara dan tempat di mana solat didirikan secara berjemaah.

PROGRAM KELUARGA ANGKAT - Program keluarga angkat yang diamalkan pada masa kini sebenarnya telah diperkenalkan oleh Islam semenjak 14 abad yang lampau. Ia mencerminkan satu pengurusan yang bervisi yang mempunyai kesan jangka panjang dalam menjayakan sesuatu kempen kemasyarakatan. Perkara pertama yang dilakukan oleh Nabi SAW ialah menjalinkan kemesraan antara golongan Muhajirin dan Ansar di mana setiap orang daripada Muhajirin akan mengambil seorang saudara angkat daripada Ansar.

PERJANJIAN DENGAN YAHUDI - Rasulullah SAW membuat perjanjian bertulis dengan yahudi. Dalam perjanjian tersebut diakui dan ditetapkan bahwa setiap golongan memiliki hak yang sama serta mempunyai kebebasan menjalankan syariat agamanya masing- masing dengan dasar saling menghormati dan menghargai. Setiap golongan wajib menjaga dan memelihara utuhnya kedaulatan kota madinah serta bersedia menjadi pembela yang setia jika terjadi ancaman dan serangan musuh dari luar kota.Mereka akan menjadikan kota madinah sebagai Madinatul haram atau kota suci yang harus terpelihara kesuciannya.

ASPEK UTAMA PIAGAM MADINAH




1. Pengakuan terhadap Rasullah s.a.w sebagai Ketua Negara Madinah yang wajib dipatuhi dan dihormati. Apa-apa masalah besar antara penduduk Islam dengan penduduk bukan Islam mestilah dirujuk kepada ketua negara untuk diselesaikan. Walaubagaimana pun, semua ketua kaum mempunyai hak untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri secara yang difikirkan berpatutan.

2. Semua penduduk Madinah hendaklah hidup sebagai satu Ummah yang tidak terpengaruh dengan apa – apa elemen yang tidak baik dari luar.

3. Semua penduduk hendaklah bersatu-pada, berkerjasama, dan bertanggungjawab mempertahankan negara dari apa -apa serangan musuh.

4. Semua penduduk diberi kebebasan mengamalkan agama masing – masing, dan tiada gangguan dan paksaan dalam hal keagamaan.

5. Keselamatan semua penduduk adalah terjamin selama mereka mematuhi perlembagaan tersebut.


Dengan tergubalnya Piagam Madinah, lahirnya sebuah negara Islam pertama di dunia di Madinah, yang menjadi induk kepada Empayar Islam selepasnya, yang memerintah dunia selama tujuh abad.


Hal ini menunjukkan pencapaian besar Rasulullah SAW dalam pelaksanaan hijrah dan mengubah landskap akidah, undang-undang dan akhlak masyarakat jahiliah adalah kerana kecemerlangan perancangan yang strategik. Rasulullah SAW menyedari walaupun Islam baru bertapak di Makkah, tetapi ia memiliki kekuatan untuk membina masa depan manusia selari dengan standard piawaian yang ditetapkan Allah. Oleh yang demikian, kepimpinan Rasulullah dalam merancang dan menguruskan pentadbiran perlu dicontohi bagi melahirkan sistem pengurusan yang terancang dan sistematik.